Dalam buletin mose-B yang baru pertama kali terbit ini dalam beberapa edisi ini akan menyampaikan seri dari buku ”mencari mutiara di dasar hati”. Dan yang pertama akan kamou nikmati adalah....
Segeralah Terangi Kegelapan
’”Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi kearah kegelapan. Di alam ini terdapat banyak cahaya...” Kalimat itu ditulis besar2 di papan tulis oleh seorang ulama. Sebelum menuliskan pesan indah itu, dikisahkam seorang muridnya bertanya, ”WahaiSyaikh, bila engkau sudak tidak lagi bersama kami, kalimat apa yang dapat kami pegang untuk berhasil menjalani hidup ini?”Semoga Allah masih mempersatukan hati kita, wahai saudaraku,
Putus asa adalah simbol ketidak berdayaan dan gelap adalah simbol kesesatan. Dalam hidup ini, ternyata orang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau ia bisa mendapatkan banyak keaadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata, memang ada pula sekelompok orang yang cenderung asyik berada dalam kegelapan. Meskipun kalau mau, ia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan di hadapannya.orang yang sudah putus harapan dan lebih suka ada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.
Sederhana sekali Ibnul Qayyim memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, ”Allah”. Orang yang telah memiliki rahasia kebhagiaan itu akan menjadi raja dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu akan disegerakan oleh Allah memperoleh surga dunia, dan di akhirat Allah menyediakan surga akhirat. ”hatinya memandang, kefakiran adalah kekayaan saat dirinya bersama Allah. Sedang Kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah.Kemuliaan itu hina tampa Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya ia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang2 yang telah mendapatkan 2surga. Surga di dunia disegerakan oleh Allah saat ia hidup di dunia dan surga akhirat menantinya.”(nafais Aal Fawaidh/202)
Saudaraku
Tanamkan keyakinan bahwa Allah bersama kita, ketergantungan hati kita kepada Allah hanya bisa dimiliki oleh orang yang sungguh2 membina dan mendidik jiwa denga selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar. ”Hidup ini pilihan”, kurang lebih begitulah bunyi prinsip hidup yang sering kita dengar. Artinya, ia bisa menjadi baik bila kita memandangnya dengan benar, dan sebaliknya, bila kita salah melihatnya.
Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa, ketentraman, kebahagiaan, perasaan lezat dengan iman. Apapun yang terjadi orang yang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut saat orang lain takut, tidak menangis saat orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Allah. Lisan mereka tidak lepas dari dzikir kepada Allah. Hati mereka lekat dengan masjid. Mereka sungguh2 berpacu dengan waktu untuk mengisi catatan amal mereka di hari akhir... Disanlah inti kebahagiaan.
Saudaraku
Keputuasaan bisa saja terjadi tanpa disadari. Begitupu kegelapan. Kerap kali kegelapan melalaikan. Seperti orng mabuk. Tak sadar bila dirinya mabuk. Keburukan selalu menarik pelakunya untuk melakukan keburukan lain dan menjadikan pelakunya lupa apa yang ia lakukan. Perhatika firman Allahh dalam surat Ash Shaft:5"... Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (dari kebenaran)...”
Tapi jangan lupa, prinsip itu juga berlaku untuk kebaikan. Kebaikan selalu mendorong pelakunya untuk melakukan kebaikan yang lain, sehingga menjadikan pelakunya selalu bersemangat melakukan kebaikan demi kebaikan. ”jika engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan mempunyai saudara2 keburukan yang lain. Dan jika engkau melihatnya melakukan kebaikan, maka ketahuilah bahwa kebaikan mempunyai saudara2 kebaikan yang lain,”(zubair bin awam)
Said bin jubair, salah seorang imam generasi tabi’in mengatakan ”sesungguhnya termasuk pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan sesungguhnya termasuk akibat keburukan adalah keburukan setelahnya.”
Saudaraku
Iman dalam hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dlam gelap dan akan kehilangan petunjuk dalm menjalani kehidupan. Dan semakin cahanya menyaka, berati kita semakin bisa melihat segala sesuatu di hadapan kita dengan jelas.
Wajar saja bila pelita itu kadang meredup, karenamemang begitulah tabiat iman, sebagaimana digambarkan Rasulullah Saw, bahwa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar tidak redup terus menerus bahkan padam. Hanya ada satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang meredup itu : Taubat.
”siapa yang bisa menandingimu anak cucu adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab kapan saja kau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tak ada perantara. Tak ada penterjemah.”(bakar bin Abdillah Al Muzani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar